Mengawali hari ini, seakan semua akan mengalir begitu saja, matahari yang cerah bahkan semakin lama semakin menyengat, but tanpa ada hujan, atau angin diawalilah suatu hari yang terkesan aneh, sekurangnya bagi saya.
Hari ini, hari ketiga Ujian Praktek, dan sebagaimana siswa di belahan dunia manapun, nuansa ujian praktek pasti terasa tegang bercampur serem, dan sebelum ujian hari ini dimulai, seorang siswi kelas XII mengawalinya dengan pingsan dengan sempurna. Yah diangkatlah sang siswi ke ruangan kantor, selidik punya selidik, eh ternyata faktor psikhis yang tidak berkaitan dengan nuansa ujian, malah nuansa romantisme remaja yang pahit and asem, walau tak seasem bau ketek...he.. he..,
Ya udah ujian bisa berlangsung, tapi masih terasa suasana yang aneh, rupanya aroma ketegangan hari sebelumnya antara teman TU masih tercium, eh rupanya masih terbawa juga ya... But profesionalitas mesti berlanjut, Aroma keanehan hari ini rupanya belum berakhir, keriuhan kampanye yang terjadi di depan sekolah rupanya terbawa kedalam rapat bulanan, yah.. namanya rambut sama hitam, tapi isi tak pernah di duga, ada- ada saja yang menjadi hal. Dan kata-kata yang terlontar mencederai rasa antar kawan, walau sudah di sharingkan antar teman masih saja belum bisa di mengerti, yah namanya juga hati, khan nggak bisa di paksa, dan disembuhkan dalam sekejab. Memang benar kata pepatah, setajam-tajamnya pedang masih lebih tajam lidah. So kita yang punya lidah mesti lebih berhati-hati ya?
Bagi saya hal ini sebetulnya masih memberi sinyal bahwa yang saya buat ternyata masih belum apa-apa, masih ada kesenjangan pengertian antar sejawat, sehingga hal-hal kecil menjadi semakin menjadi, kata orang londo, kriwikan dadi grojogan(eh ini bahasa apaan ya?). Dan masih harus selalu belajar, terutama untuk mengerti isi hati seseorang dan alangkah bagusnya kalau bisa melakukan tindakan preventif. Tapi ya bisa ngga ya memuaskan banyak orang?
Hari aneh ini ternyata masih berlanjut, situasi di saudara seyayasan ternyata juga sedang "goreh" masalahnya tiba-tiba saja tersiar berita adanya pergantian kepala sekolah yang mana yayasan saja sampai ngga tahu?!! (ha?) but, ya sudah itu khan kebijakan atasan ya sudah, kita akar rumput khan bisanya "sendhika dawuh to?".
Eh belum juga meninggalkan sekolah, datang lagi gosip, si bibi di rumah ternyata ketika ditinggal tuan rumah memang bukan rumah saya sih? tapi namanya juga saudara to mana kita yang diberi tanggung jawab ngawat-awati, lha kok bisa masukin lelaki untuk tidur di rumah, (wuah bahaya ni, klo ada ape-ape gimane?), ya udah ini si bibi musti di sidang! Tapi kalau saya yang mesti nyidang, wah pasti ada orang sakit hati jadi mesti minta bantuan nyonya nih, dan dengan "local wisdom"nya ternyata nyonya bisa membereskan masalah ini, he..he..he..
Pulang ngantor maunya bobo manis terus baca komik Naruto, lha wong energi udah menipis, ternyata si kecil minta di bantu tugas ujian praktek di sekolahnya, mana yang merangkai baterai dan bohlam lampu, dilanjutin buat "jungkat-jungkit" terus beresin buat cangkokan, he..he..he, susah juga ya jadi bapak ideal mending jadi bapak ideot. Tapi masak sich orang ganteng kaya cagak ting begini ideot?
Begitu mau nyruput teh anget eh listrik mati, ya telan ludah saja?! eh ngga taunya gelap-gelap ada orang minta di doain ibadah penguburan orang meninggal, ya... mikir-punya mikir ya udah mau apa lagi, ternyata tanpa sengaja, bacaan yang terambil tentang si Ayub, wah ini Tuhan bercanda ya? Tahu banget kalau saya lagi "ngedumel" dalam hati tentang hari ini, Benar juga ya.. kadang kita maunya nyalahin orang lain atas ketidak enakan yang terjadi pada diri kita, atas kesulitan kita, atas ketidak adilan yang kita alami, tapi Ayub bisa-bisanya setelah semua kemalangan justru bertanya kepada dirinya sendiri kalau mungkin ia kurang melayani Tuhan.
Ya udah, terima kasih Tuhan akhirnya malam ini saya bisa mengakhiri dengan tidak terus bertanya apa yang salah dengan semua yang saya buat? dan lebih-lebih untuk tidak terus mencari kesalahan juga pada orang lain. Dan tidak mencari-cari pelarian dari semua yang terjadi, seperti Yesus yang setia menjalani rencana Tuhan sampai wafat di Salib.
